Dalam tradisi masyarakat Huwulama, terdapat simbol budaya yang memiliki makna khusus bagi perempuan.
Salah satunya adalah noken yang digantungkan di bagian depan dada, yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai “ Elemak SU/SU ELEMAK.”
Dalam praktik budaya Huwulama, Su Elemak umumnya dikenakan oleh perempuan, terutama dalam konteks upacara adat atau prosesi pernikahan, sehingga sering diasosiasikan dengan simbol perempuan pengantin Baru. Atribut ini tidak sekadar hiasan, tetapi merupakan bagian dari identitas budaya, kehormatan perempuan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.
Karena itu, ketika melihat Ibu Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, mengenakan noken dengan cara digantungkan di bagian depan dada, sebagian masyarakat menafsirkan penampilan tersebut sebagai penggunaan simbol yang dalam budaya Huwulama identik dengan atribut pengantin perempuan. (Ibu RH baru Nika Kah?)
Namun demikian, sebagai putri asli Papua yang berasal dari latar budaya yang memahami tradisi lokal, tentu Ibu Ribka Haluk sangat memahami tata cara dan makna penggunaan noken dalam konteks budaya masyarakatnya sendiri. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa noken bukan sekadar tas tradisional, melainkan simbol budaya yang memiliki makna sosial, identitas, dan filosofi tersendiri dalam kehidupan masyarakat Papua.
Dengan demikian, diskursus ini menjadi pengingat bahwa setiap simbol budaya Papua memiliki konteks, aturan adat, dan nilai filosofis yang perlu dipahami dengan baik oleh masyarakat luas. 🌿
