Resesi dan Seruan Moral Pemimpin Agama
Oleh: Noorhalis Majid
Situasi geopolitik global yang terus memanas, berdampak pada resesi di hampir seluruh dunia. Bukan hanya harga barang yang melambung tinggi, tetapi kriminalitas mengancam, kepercayaan sosial menurun dan ketenangan bathin terganggu. Pondasi yang harus diselamatkan tidak sekedar kecukupan pangan, tetapi ketahanan pemikiran keagamaan dan ketenangan spiritual. Kalau pemikiran keagamaan dan ketenangan spiritualitas masih terjaga, separah apapun resesi, harapan masih selalu terbuka.
Dialog teologis bertajuk “Pesan Agama di Tengah Geopolitik dan Resesi”, diselenggarakan LK3 Banjarmasin, bersama komunitas Antar Iman Kalsel, (20/6/2026) di Rumah Alam Sungai Andai, dihadiri para tokoh agama dari berbagai agama. Dialog teologis yang digagas LK3 ini, diharapkan menjadi ruang perjumpaan para tokoh agama, untuk menyuarakan berbagai persoalan di tengah masyarakat dan melihatnya dari sisi teologis, yaitu ajaran agama-agama, sebagai pedoman dan pesan moral menjalani kehidupan.
Disampaikan oleh para pemuka agama, bahkan dalam sejarah, kemerotan moral, pernah terjadi hampir di semua agama. Dalam Islam, terjadi pada tahun 35 hingga 40 Hijriah, atau 656 hingga 661 Masehi, masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Kala itu, pemerintahan Islam diwarnai berbagai pergolakan dan krisis politik internal. Pun perang salib yang begitu panjang, menyebabkan krisis global hampir 700 tahun lamanya. Begitu juga pada agama lainnya, Hindu, Budha, semua pernah mengalami masa-masa suram, dimana moral diletakkan pada level paling bawah.
Dalam agama-agama, ketika krisis terjadi, muncul berbagai aliran dan paham agama, entah itu berpa tarekat, sekte, ordo, atau nama-nama lainnya. Dalam Islam, lahir tarekat-tarekat, bahkan Al Gazali, bahkan membagi ulama dalam 2 kelompok ekstrim. Kelompok pertama, disebutnya dengan Ulama Akhirat, ulama jenis ini adalah mereka yang menuntut dan mengamalkan ilmu semata-mata untuk mencari rida Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Ciri-cirinya, mengamalkan ilmunya, zuhud terhadap dunia, tawadhu, dan menjadikan ilmunya sebagai lentera petunjuk bagi umat tanpa mengharapkan pujian atau imbalan materi.
Kedua, ulama dunia, atau ulama Su’. Ulama jenis ini adalah mereka yang menggunakan ilmunya sebagai alat untuk mencari keuntungan duniawi, seperti kekayaan, popularitas, dan kedudukan. Ciri-cirinya, ilmu yang mereka miliki tidak membawa manfaat untuk perbaikan akhlak mereka sendiri. Mereka sering kali menjilat penguasa, menghalalkan segala cara, dan ilmunya justru menjadi bumerang yang membinasakan diri mereka dan orang lain.
Begitu juga dengan pemuka agama lainnya, banyak yang tidak mampu berkata dan berbuat apapun menghadapi kenyataan sekarang ini. Sebabnya karena sudah mapan, mendapat berbagai fasilitas negara. Sekedar menyelenggarakan kegiatan internal organisasi keagamaan saja, meminta bantuan negara, dan dampaknya, tidak mampu lagi bersuara saat negara menyimpang dari rel yang seharusnya. Agama kehilangan kontrol terhadap penguasa yang zalim, padahal sejarah panjang agama, memberikan arah dan kontrol terhadap penguasa.
Terhadap perang yang melanda Iran, Amerika dan Israel, dan menimbulkan krisis di hampir seluruh dunia, mestinya para tokoh agama bersuara menyampaikan pesan-pesan moral yang berpihah hanya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Bersyukur masih ada Paus Leo, sebagai pemuka agama dunia, yang menyuarakan keberpihakan pada korban. Dia menyerukan soliditas umat manusia agar saling melindungi dan menolak perang, melawan secara moral ketidak adilan, dan berani menyuarakannya secara lantang, bahkan tidak takut menghadapi tekanan.
Pada tokoh agama yang berdialog pada siang itu, menggali akar persoalan yang sedang menimpa semua sendi saat ini, terutama di Kalsel dan Indonesia pada umumnya. Dipahami, pesan utama dari agama-agama yang sekarang ini terus merosot dan bahkan hilang, adalah “kejujuran”. Padahal kejujuran, pondasi utama moral agama. Karena kejujuran sudah hilang, akibatnya korupsi menggurita, tipu menipu sudah biasa, penghianatan dianggap lajim, janji palsu jadi wajar, termasuk selingkuh, manipulasi fakta, dan berbagai hal yang bertolak belakang dari kebenaran.
Perlu seruan moral dari para pemimpin agama. Agar pemerintah serius terhadap berbagai isu strategis yang sekarang sedang dihadapi umat beragama. Isu-isu tersebut antara lain: krisis ekonomi yang menyebabkan meningkatnya angka kriminalitas. Isu korupsi yang membuat pemerintah kehilangan wibawa dan kehormatannya di mata rakyat. Isu hubungan sejenis yang sirkelnya terus membesar dan meluas, meresahkan ketertiban sosial dan mengancam generasi muda. Dan isu kerusakan ekologis, menyebabkan Kalsel rentan terhadap bencana. Sedikit saja terjadi fenomena alam, sudah berbuah bencana yang memakan korban. Sebegitu rentanya alam terhadap bencana, tidak dibarengi dengan upaya negara melakukan edukasi terkait tanggap kebencanaan.
Terutama terkait kerusakan ekologis, apabila tidak disikapi dengan serius, dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan berdampak terhadap ketahanan pangan dan krisis air bersih. Perlu seruan moral dari para pemimpin agama, sehingga benar-benar menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, terutama oleh pemerintah, agar lebih fokus menjawab persoalan dan menjadi solusi atas isu-isu yang mengancam.
Para tokoh agama juga berharap, isu-isu strategis tersebut sebagai titik temu, perjumpaan, untuk bersama-sama berpartisipasi, memberikan saran dan masukan, guna membangun masa depan Kalsel yang lebih baik. (nm)

