Iklan

ANAK-ANAK PINING DIPAKSA MENANTANG MAUT SETIAP HARI: JEMBATAN ROBOH DIBIARKAN BERBULAN-BULAN, PEMERINTAH DAN PIHAK TERKAIT DIANGGAP ABai

Selasa, 31 Maret 2026, Maret 31, 2026 WIB Last Updated 2026-03-31T14:34:00Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 






GayoLues- Info berita news. id. 

.31/3/2026: 9:18 wib.


Penderitaan anak-anak sekolah di Kecamatan Pining kian memprihatinkan dan tak lagi bisa ditoleransi. Setiap hari, mereka dipaksa mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi sungai berarus deras demi menuntut ilmu, akibat jembatan Pintu Rime yang roboh diterjang banjir bandang hingga kini tak kunjung dibangun kembali.





Realitas ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan potret nyata pembiaran yang mengancam keselamatan generasi masa depan. Di tengah derasnya arus dan keruhnya air sungai, ancaman batu licin dan risiko hanyut menjadi bahaya nyata yang harus dihadapi anak-anak tanpa perlindungan memadai.






Ironisnya, hingga berbulan-bulan pascakejadian, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah maupun pihak terkait. Janji demi janji yang sempat disampaikan kini dinilai masyarakat hanya menjadi retorika kosong tanpa realisasi.


Sorotan tajam pun diarahkan kepada BNPB RI yang dianggap tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani kondisi darurat ini, serta PT Hutama Karya yang hingga kini belum memberikan klarifikasi terkait keterlambatan pembangunan jembatan.


Sikap diam dan minimnya transparansi dari pihak-pihak tersebut semakin mempertegas kesan abai terhadap keselamatan warga, khususnya anak-anak sekolah yang setiap hari dipaksa berhadapan dengan risiko kematian.


Warga Desa Pining, Jamalul Hakim, dengan tegas menyuarakan kekecewaan mendalam masyarakat.


“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya minta jembatan agar anak-anak kami tidak mati sia-sia di sungai. Pemerintah sudah janji, tapi sampai sekarang tidak ada bukti,” ujarnya dengan nada geram.


Ia juga mengkritik keras peran BNPB yang dinilai hanya hadir sebatas seremonial tanpa tindakan nyata.


“Jangan hanya datang, lihat, janji, lalu hilang. Kami tidak butuh sandiwara. Kami butuh solusi nyata,” tegasnya.


Kekecewaan warga semakin memuncak hingga muncul pertanyaan getir yang menggambarkan rasa terpinggirkan.


“Apakah Pining masih bagian dari Aceh atau sudah dihapus dari perhatian negara?” ucap salah satu warga.


Masyarakat menilai kondisi ini bukan lagi sekadar keterlambatan proyek, melainkan kegagalan sistemik yang mencerminkan lemahnya tanggung jawab dan kepedulian terhadap keselamatan rakyat.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin tragedi akan terjadi. Dan ketika itu terjadi, masyarakat menegaskan bahwa semua pihak yang memilih diam harus bertanggung jawab.


Pining tidak membutuhkan belas kasihan. Pining menuntut keadilan, tindakan nyata, dan keberanian pemerintah untuk berhenti berjanji—dan mulai bekerja.

(5411180)

Komentar

Tampilkan

Terkini