Jakarta, Rahmat Hidayat yang akrab di panggil Somad sek jend POROS 98 yang juga kader PPP mengatakan di Pragmatisme menjadi berbahaya ketika keuntungan, jabatan, dan kepentingan pribadi ditempatkan lebih tinggi daripada nilai, integritas, dan kemaslahatan.
Masalahnya, pragmatisme tidak cukup dilawan dengan nasihat. Ia harus diubah melalui transformasi nilai.
Rasulullah Muhammad SAW memberikan pelajaran penting bahwa perubahan sosial dimulai dari perubahan manusia: cara pandang, kesadaran, akhlak, perilaku, hingga terbentuknya tatanan sosial baru.
Prinsipnya sederhana:
Nilai → Kesadaran → Perilaku → Sistem → Budaya.
Karena itu, jika ingin mengubah perilaku, jangan hanya menyalahkan individu.somad juga menegaskan Kita juga harus mengubah sistem yang membuat perilaku pragmatis dianggap wajar dan bahkan dihargai.
Dalam politik, transformasi itu dapat dimulai dari perubahan pertanyaan.
Bukan lagi:
“Apa yang saya dapat?”
Tetapi:
“Apa yang dapat saya berikan?”
Jabatan harus dipandang sebagai amanah. Kekuasaan harus menjadi sarana pengabdian. Organisasi harus menjadi ruang kontribusi, bukan sekadar kendaraan menuju posisi.
Relevan bagi PPP
Gagasan ini penting bagi PPP dalam menghadapi Pemilu 2029.
PPP tidak cukup hanya mengandalkan sejarah dan identitas. Keduanya harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang menghasilkan manfaat dan kepercayaan masyarakat.
Struktur partai harus hidup. Kader harus diukur dari integritas, kompetensi dan kontribusi. Ranting, PAC, DPC hingga DPW harus hadir di tengah masyarakat dan menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi . " tutur Somad.
Sebab parliamentary threshold bukan titik awal perjuangan. Ia adalah akibat dari proses membangun kepercayaan.
Rumusnya jelas:
Nilai → Kader → Kerja → Manfaat → Kepercayaan → Suara → Kursi.
Karena itu, PPP tidak cukup bertanya bagaimana mendapatkan suara. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa masyarakat harus kembali percaya kepada PPP?
Jawabannya bukan pada slogan, baliho atau janji.
Jawabannya ada pada kerja yang konsisten dan manfaat yang nyata.
Pragmatisme tidak akan hilang hanya karena kita mencelanya. Ia akan berkurang ketika integritas, pengabdian dan kemaslahatan kembali menjadi nilai yang dihargai.
Pada akhirnya, politik harus kembali kepada pertanyaan sederhana:
Bukan “apa yang saya dapat dari rakyat?”, tetapi “apa yang dapat saya berikan kepada rakyat?”
Dari transaksi menuju kontribusi. Dari kepentingan menuju kemaslahatan. Dari pragmatisme menuju integritas.

