Jakarta, 29 Agustus 2026 – Praktisi Senior EPCC yang juga Komisaris Independen PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Ketua Umum JPKP, Maret Samuel Sueken, menggugat arah hilirisasi nasional yang dinilai belum menyentuh akar kedaulatan industri.
Dalam pernyataan strategisnya, ia menegaskan bahwa hilirisasi di Indonesia masih direduksi sebatas memindahkan lokasi pembangunan pabrik, smelter, dan kilang ke dalam negeri, tanpa memindahkan kemampuan untuk membangunnya.
"Hilirisasi tidak boleh hanya memindahkan produk. Hilirisasi harus memindahkan kemampuan. Jangan sampai kita berhasil menghilirisasi nikel dan bauksit, tapi tetap mengimpor engineering capability, technology know-how, dan kemampuan Transport & Installation. Jika itu terjadi, kita baru melakukan hilirisasi produk, belum hilirisasi kemampuan," tegas Maret Samuel Sueken.
Menurutnya, proyek-proyek strategis nasional bernilai triliunan rupiah hingga kini masih didominasi pemain global seperti McDermott, Saipem, Chiyoda, JGC, dan Hyundai. Hal ini terjadi karena Indonesia belum memiliki cukup perusahaan nasional dengan kemampuan terintegrasi kelas dunia di bidang Engineering, Procurement, Construction, Commissioning (EPCC) dan Transport & Installation (T&I).
Ia menyebut fenomena ini sebagai praktik "Londo Ireng" gaya baru, di mana proyeknya di Indonesia dan pemiliknya Merah Putih, namun otak dan kemampuan industrialnya masih milik bangsa lain.
Anatomi Kedaulatan: Otak, Tangan, Kaki
Maret memaparkan, kedaulatan industri harus dibangun sebagai organisme utuh yang terdiri dari tiga elemen:
1. OTAK (Engineering, Technology & IP): Penguasaan desain, teknologi proses, dan project management sebagai intellectual capital strategis. 2. TANGAN (Fabrication & Manufacturing): Kemampuan mengubah rancangan menjadi benda nyata melalui fabrication yard, workshop, dan ekosistem supply-chain. TKDN sejati, menurutnya, bukan sekadar angka persen, tapi seberapa banyak kemampuan yang tinggal di Indonesia. 3. KAKI (Logistics & T&I): Kemampuan kritis untuk membawa, mengangkut, dan memasang hasil fabrikasi ke lokasi proyek, termasuk jetty, heavy lifting, dan marine logistics. Tanpa kaki, ekosistem tetap pincang dan terjadi value leakage.
Dorong Rekind Menuju Global EPCC Player
Di tengah tantangan tersebut, Maret menilai Indonesia memiliki aset strategis yaitu PT Rekayasa Industri (Rekind). Dengan pengalaman 45 tahun, Rekind telah memiliki "Otak" berupa SDM, database engineering, dan sistem manajemen proyek yang kuat.
Untuk menjadi Global EPCC Player, Rekind perlu diperkuat "Tangan dan Kaki"-nya melalui integrasi aset-aset BUMN strategis seperti Pelindo dengan infrastruktur pelabuhannya, PT PAL dengan galangan kapalnya, serta BUMN karya lainnya.
"Kantong kiri dan kantong kanan sama-sama Merah Putih. Jika owner-nya, modalnya, asetnya, pasarnya, dan SDM-nya Merah Putih, mengapa kemampuan EPCC-nya tidak Merah Putih? Kita tidak butuh proteksi yang bikin manja, tapi butuh industrial policy yang cerdas agar perusahaan nasional bisa bermitra hari ini dan bersaing di masa depan," ujarnya.
Ia menegaskan, kebijakan negara terhadap Rekind tidak boleh berhenti pada financial rescue, melainkan harus menjadi strategic transformation dengan roadmap jelas: GET OUT dari legacy exposure, GET HEALTHY dengan memulihkan finansial, GET GROWING dengan model bisnis baru, dan GO GLOBAL sebagai pemain global.
"Setiap proyek nasional harus menjadi School of Excellence. Setiap proyek harus meninggalkan warisan berupa knowledge, teknologi, dan SDM bersertifikat berstandar global," tutupnya.
Maret berharap, momentum besar hilirisasi mineral, kedaulatan energi, transisi energi, dan ketahanan pangan dapat menjadi titik balik untuk membangun hilirisasi kemampuan bangsa secara utuh.
Tentang Narasumber:
Maret Samuel Sueken adalah Praktisi Senior EPCC dengan pengalaman puluhan tahun di proyek offshore dalam dan luar negeri, saat ini menjabat sebagai Komisaris Independen PT Rekayasa Industri dan Ketua Umum JPKP.
Report: Bang Faaz

